Mengerti yang Tertunda
Seorang anak bertanya kepada ayahnya.
"Yah, kenapa kita harus sekolah, kalau sekedar untuk belajar menulis dan membaca, atau belajar ilmu lainnya semua kan ada di internet, belajar membaca, belajar mengaji, belajar berhitung, bahkan belajar membuat robotpun ada, apalagi sekarang banyak kemudahan dari jaringan internet, terutama produk dalam negeri, punya pemerintah yaitu telkomsel, cepat dalam aksesnya"
Sang ayah tersenyum kepada anaknya.
"Suatu hari engkau akan mengerti, Nak", itulah jawaban pendek seorang ayah pada anaknya. Anak yang baru duduk di TK ini merasa tidak puas dengan jawaban ayahnya, dia terus berlari menemui ibunya yang sedang sibuk memasak.
"Bu, kenapa kita harus sekolah, semua pelajaran ilmu ada di internet", ibu pun tersenyum pada anaknya.
"Suatu saat engkau akan paham, Nak", jawaban ibu tak jauh beda dengan jawaban ayahnya.
Hari-hari dilalui dengan keceriaan, tanpa disadari anak TK yang dahulu suka bertanya kepada ayah dan Ibunya sudah duduk di bangku sekolah menengah atas. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan kedua orang tuanya pun sudah mulai tanpak tua.
Teman-teman di sekolah beraneka macam watak dan kriterianya, Si anak memang pandai bergaul dengan temannya. Memang didikan dari orang tua dalam lingkungan keluarga sangat berperan penting dalam pergaulan sehari-hari, anak yang dulu begitu kreatifnya bertanya pada orang tuanya, sekarang berdiri di sekolahnya, dia begitu akrab dengan semua teman, tidak ada pilih teman, yang kaya atau yang miskin, yang pintar atau yang agak pemalas, yang perempuan ataupun yang laki-laki, yang sering minggat atau yang sering ngajak bolos, semua menjadi temannya, tidak ada yang merasa diasingkan atau di kucilkan. Sehingga semua temannya merasa kehilangan ketika Si anak tidak datang ke sekolah karena sakit.
Waktupun berlalu bagai hitungan detik, Sang anak yang sering bertanya kepada Ayah dan Ibunya dulu dan anak yang disayangi teman-temannya kini sudah besar, dan sudah menamatkan strata satu di Universitas ternama di daerahnya. Semua proses pendidikan telah selesai, dia tidak mau berlama-lama di rumah.
Sang anakpun mulai mencari pekerjaan di sebuah kota besar, dengan modal selembar kertas ijazah S1 Akuntansi, dia berkeliling kota dengan masuk dan keluar sebuah kantor, walau dia lulusan Sarjana yang dibutuhkan, dan nilainya pun mendukung, namun masih susah mencari pekerjaan, karena dia tidak memiliki pengalaman kerja. Setelah lamaran anak itu dimasukan ke setiap perusahaan, diapun menunggu masa pemanggilan interview, seminggu sudah berlalu, 2 minggu pun terlewati, sekarang sudah sebulan, modal untuk biaya kehidupan selama di kota sudah hampir habis, Sang anakpun bingung, apa yang harus dilakukan.
Pagi itu Si anak sudah punya rencana untuk pergi mencari kerja serabutan, yang penting dapat uang halal, sesaat mau melangkahkan kaki, tiba-tiba hp nya pun berbunyi dan, dia tak tahu siapa yang menelpon, nomor baru. Ternyata panggilan dari seseorang yang mengaku dari sebuah perusahaan yang bergerak di sektor Migas, perusahaan tersebut meminta Si anak untuk datang interview pada hari dan jam yang telah ditentukan. Diapun datang dan menemui seceruty kantor tersebut. Tak lama kemudian dia di suruh masuk kedalam suatu ruangan, di dalam ruangan tetsebut dia masih menunggu. Tak lama datanglah seorang laki-laki, sepertinya sebaya dengannya. "Selamat pagi Bapak", kata laki-laki tersebut, Si anak terdiam tanpa menjawab teguran laki-laki tersebut, dia tertegun menatap wajah laki-laki tersebut. Wajah laki-laki tersebut tidak asing dimata Si anak, seperti teman lamanya waktu di sekolah menengah atas dulu, teman yang menjadi buah bibir Para Majelis Guru, bukan karena rajin atau berprestasinya tetapi karena lakunya yang sering bolos, sering absen dan suka ngerjain guru-gurunya.
Laki-laki ini tersenyum, dan terus bersalaman. Si anak pun sadar dan mengerti, jangan pernah menilai seseorang dari lakunya, karena lakunya yang tidak baik di waktu sekolah, jangan pernah menfatwa seseorang karena nilai perbuatannya yang kurang di terima oleh teman-teman lain, jangan pernah membedakan teman yang baik dengan teman yang jahat, bisa jadi teman yang jahat ini lebih baik dari kita suatu nanti.
Inilah yang dikatakan kedua orangtuanya dulu.
"Suatu saat engkau akan mengerti”.
Tidak semua bisa dilakukan oleh teknologi, tidak semua yang bisa diselesaikan oleh kecanggihan dunia, hubungan antara seseorang dengan orang lain, antara sahabat dengan sahabat, tidak ada dalam internet.
Inilah salah satu nilai yang terkandung dalam pendidikan sekolah, ada hubungan yang terhubung lansung anatara satu jiwa dengan jiwa lain, ada norma persahabatan, nilai akhlak antara sesama. Anak itupun lansung menangis, melihat teman-temannya begitu perhatian padanya, itulah arti sebenarnya teman, mereka ada di waktu kita susah, dan kita ada untuk mereka yang susah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar